Menjaga Nafas Bumi di Tanah Jati
Renungan Satyalancana Wira Karya untuk Sang Penjaga Kedamaian di Lumbung Jagung Blora
JAKARTA – Di kota yang dipenuhi hiruk-pikuk beton, sebuah penghargaan jatuh seperti embun pagi yang menyentuh kening seorang pengabdi. Di sana, di bawah tatapan bijaksana Sang Presiden, seorang penjaga kedamaian berdiri bukan dengan pedang yang terhunus, melainkan dengan tangan yang telah ikut membelai harapan para petani di ufuk timur Jawa Tengah.
Satyalancana Wira Karya bukan sekadar logam yang berkilau di dada AKBP Wawan Andi Susanto. Sebuah refleksi dari suara cangkul yang beradu dengan tanah Blora, sebuah pengakuan bahwa keamanan bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan jembatan yang menghubungkan keringat petani dengan meja-meja perjamuan bangsa.
"Jika tanah adalah rahim kehidupan," bisik angin di sela hutan jati, "maka keamanan adalah nafas yang menjaganya dari gangguan tangan-tangan yang tak bertanggung jawab." Di bawah kepemimpinan AKBP Wawan, Polres Blora telah memahami bahwa menjaga ketahanan pangan adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta kepada sesama manusia.
Angka yang Menjadi Doa
Blora, wilayah yang sering dijuluki sebagai tanah yang keras, kini bersolek dengan emas hijau yang melimpah. Luas lahan 79.031 hektar bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan hamparan doa yang dikabulkan. Dengan produksi mencapai 455.709 ton, bumi Blora berbicara tentang keberlimpahan.
Ketika angka produktivitas menyentuh 57,66 Kw/Ha, kita melihat sebuah simfoni. Di sana ada polisi yang menjaga distribusi pupuk layaknya menjaga aliran darah; di sana ada pembinaan yang dilakukan dengan hati, memastikan tak ada hama ketakutan yang merusak semangat para penanam.
"Penghargaan ini adalah milik rakyat," ujar sang Kapolres dengan kerendahan hati yang mengingatkan kita pada akar yang tetap tersembunyi di dalam tanah meski bunga-bunganya dipuji dunia. "Stabilitas keamanan adalah ruh bagi produktivitas pangan. Tanpa kedamaian, benih pun enggan untuk bertunas."
Komitmen dalam Asta Cita
Melalui visi Asta Cita, pengabdian ini tak akan berhenti pada seremoni di Jakarta. Komitmen itu tetap tertanam di antara pematang sawah dan kebun jagung. Sang Kapolres berjanji untuk terus hadir, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai kawan bagi mereka yang jemarinya bersahabat dengan lumpur.
Sebab, pada akhirnya, ketahanan pangan adalah ketahanan jiwa sebuah bangsa. Dan di Blora, di bawah kawalan para bhayangkara Polres Blora yang berdedikasi, kita belajar bahwa ketika hukum dan kasih sayang bersatu, bumi akan lebih berseri..

