Orkestrasi Sunyi di Masjid Moetiah, Saat Doa Menjelma Bakti bagi Marhaen Blora

Potret naratif Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman sesaat setelah berdialog dengan warga usai pembukaan program Blora Menyapa di Masjid Moetiah Sawahan

BLORA- Malam merayap perlahan di langit Sawahan, Rabu, 18 Februari 2026. Di bawah naungan kubah Masjid Moetiah yang berdiri megah namun bersahaja, sebuah narasi besar tentang pengabdian sedang dituliskan. Bukan dengan tinta mas, melainkan dengan tetesan keringat dan ruku' yang khusyuk. Udara malam yang biasanya dingin, mendadak hangat oleh kehadiran ratusan jiwa yang berhimpun dalam satu tarikan napas spiritual: Pembukaan Tarawih Keliling (Tarling) Kabupaten Blora.

Di barisan terdepan, nampak sosok Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, berdiri tegak menyatu dengan rakyatnya. Tidak ada jarak yang memisahkan antara sang pemegang kebijakan dengan mereka yang tangannya kasar oleh cangkul dan lumpur sawah. Dalam balutan baju takwa yang sederhana, Bupati Arief menunjukkan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila adalah kepemimpinan yang mau bersujud di level yang sama dengan rakyat yang dilayaninya.

Zikir yang Menjelma Uluran Tangan

Ritual Tarling tahun ini bukan sekadar perayaan seremonial yang lewat begitu saja seperti angin lalu. Program "Blora Menyapa" dan "Baznas Berbagi" adalah bukti nyata bahwa zikir harus berbuah pikir dan amal. Bupati Arief dengan nada bicara yang tenang namun penuh ketegasan menyampaikan bahwa perjalanan spiritual ini akan menjangkau 16 kecamatan, dimulai dari Desa Krocok di Tunjungan hingga pelosok Ngawen.

Setiap sujud dalam sholat Tarawih yang dilakukan rombongan ini diikuti dengan aksi nyata penyaluran bantuan bagi anak yatim dan dhuafa. Inilah esensi pembangunan manusia Cepu Raya yang seutuhnya: memenuhi dahaga spirituil sekaligus mengenyangkan lapar materiil. Bagi masyarakat Blora, kehadiran bantuan dari Baznas di sela-sela ibadah adalah manifestasi dari kasih sayang Tuhan yang turun melalui tangan-tangan pemerintah yang amanah.

Satu Tahun Pengabdian dan Mimpi Pendidikan

Gema takbir malam itu terasa lebih bergetar karena bertepatan dengan satu tahun perjalanan kepemimpinan Arief Rohman. Sang Bupati, dengan kerendahan hati seorang santri, memohon doa restu agar sisa pengabdiannya tetap tegak lurus pada kepentingan rakyat. Ia sadar bahwa membangun Blora adalah kerja peradaban yang membutuhkan napas panjang dan dukungan kolektif dari seluruh elemen masyarakat.

Semangat pembangunan manusia ini pun terpancar kuat dari Yayasan Encik Moetiah Moljono. Irfan Agustian Iswandaru, sang Ketua Takmir, membawa kabar gembira tentang seleksi 25 anak yatim untuk menempuh pendidikan gratis di SMP Moetiah. Ambisi membangun gedung SMA/SMK bagi anak-anak kurang beruntung adalah oase di tengah gurun ketidakpastian ekonomi. Di sini, Masjid Moetiah bertransformasi menjadi laboratorium kemanusiaan yang melahirkan harapan bagi masa depan generasi muda Blora.

Petuah Bijak dari Mimbar Khozinatul Ulum

Puncak malam itu ditutup dengan untaian mutiara hikmah dari KH. Muharror Ali. Pengasuh Ponpes Khozinatul Ulum tersebut mengingatkan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membasuh egoisme pribadi dengan air kepedulian sosial. Beliau menekankan bahwa kesalehan individu baru akan sempurna jika ia menjelma menjadi kesalehan sosial. Pesan ini menjadi pemungkas yang manis bagi simfoni malam itu, mengukuhkan bahwa Blora sedang bergerak menuju masyarakat yang lebih beradab dan sejahtera.

Lampu-lampu Masjid Moetiah mungkin akan padam saat fajar tiba, namun api semangat yang dinyalakan malam itu akan terus berkobar di 16 kecamatan lainnya. Sebuah perjalanan panjang untuk memuliakan manusia, membumikan nilai Pancasila, dan merajut kembali senyum di wajah-wajah dhuafa di tanah Blora yang tercinta.

Jadilah bagian dari perubahan besar ini! Mari kita jaga semangat kegotongroyongan dan kepedulian sosial untuk mewujudkan Blora yang lebih bermartabat bagi semua!