-->

Dari Versailles Prancis ke Senayan Jakarta, Sejarah Tak Pernah Tidur

Ketua-Rumah-Juang-ASRI-Exi-Agus-Wijaya

 Karena sejarah, pada akhirnya, tak pernah tidur. Namun hanya menunggu saat untuk mengulang.

Prancis, abad ke-18. Negeri itu berdiri di atas punggung rakyat yang lapar. Pajak jatuh dari langit seperti hujan batu, menghantam petani hingga tulangnya berderak, membuat buruh miskin menggigil di jalan-jalan kota. Sepotong kecil roti menjadi barang mewah yang harus ditebus dengan keringat, air mata, bahkan darah.

Namun di istana Versailles, dunia bagaikan negeri lain. Lampu kristal menyala seperti bintang yang dipaksa tunduk di langit-langit. Gelas anggur merah beradu, dentingnya menutupi tangis rakyat. Musik berdenting, gaun sutra berputar, tawa bangsawan bergema. Louis XVI, sang raja, duduk di singgasana bak patung porselen rapuh, dingin, tak berjiwa. Matanya berat oleh lemak kuasa, telinganya ditutup oleh gemerincing perhiasan istrinya, Marie Antoinette, yang terkenal dengan keborosan tanpa batas. Ketika rakyat berteriak, ia diam. Ketika rakyat merintih, ia berpesta.

Tetapi sejarah selalu menagih utang. Perut lapar adalah genderang perang yang tak bisa dihentikan. Dari desa-desa, dari gang-gang kumuh, rakyat bangkit, membawa bara di dada. Mereka menggedor gerbang Bastille penjara yang menjadi lambang tirani. Bayonet tentara kerajaan menusuk tubuh, peluru meletus, darah bercucuran di jalan Paris. Namun setiap tetes darah bukanlah tanda kalah, melainkan suluh yang menyulut api lebih besar. Api itu menjalar, melalap dinding ketakutan, membakar simbol-simbol kekuasaan.

Bastille runtuh. Versailles gemetar. Dan akhirnya, rakyat menghadirkan raja dan permaisurinya ke altar besi bernama guillotine. Louis XVI dan Marie Antoinette kehilangan kepala mereka hadiah terakhir dari rakyat yang sudah terlalu lama dipaksa menunduk. Kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan akhirnya roboh, bukan oleh pedang bangsawan, melainkan oleh tangan rakyat sendiri.

Dua abad kemudian, bayang-bayang itu bergerak ke negeri ini. Indonesia, dengan wajah dan nama lain, tapi pola yang sama. Pajak Bumi dan Bangunan menggigit leher rakyat desa, naik gila-gilaan. Harga kebutuhan melambung, dan keringat rakyat diperas lewat pungutan yang tak kenal ampun. Sementara itu, di kursi empuk kekuasaan Senayan Jakarta, para wakil rakyat menambahkan gemuk tunjangan mereka, seolah-olah negeri ini hanya ladang untuk menggemukkan perut sendiri.

Dan ketika mahasiswa turun ke jalan, ketika rakyat bergerak dengan suara lantang, apa yang menyambut mereka? Bukan ruang dialog. Bukan telinga yang mendengar. Yang datang adalah gas air mata, pentungan, dan peluru. Aparat yang seharusnya saudara, anak dari rahim rakyat juga dipaksa mengangkat senjata melawan bangsanya sendiri. Sama seperti Paris ratusan tahun lalu, darah rakyat kembali jadi tinta yang menulis bab baru sejarah. Nama-nama mahasiswa dan rakyat tumbang, bukan di medan perang melawan penjajah, tapi di aspal jalanan negeri sendiri, melawan penguasa yang lahir dari rahim bangsa yang sama.

Lihatlah! Gedung-gedung DPRD dibakar. Rumah-rumah anggota dewan dijarah dan dilalap api. Itu bukan sekadar amukan tanpa arah. Itu adalah bahasa marah rakyat yang tak lagi percaya. Api adalah kalimat terakhir yang mereka punya, ketika semua kata-kata dibungkam, ketika suara dipatahkan, ketika ruang bicara ditutup rapat.

Sejarah berteriak lebih lantang dari keriuhan pasar gelap kekuasaan: "kekuasaan yang mabuk kemewahan, yang berdiri di atas penderitaan, pasti akan roboh". Versailles sudah jadi abu. Louis sudah kehilangan kepala. Dan bila penguasa negeri ini tetap tuli, tetap buta, tetap congkak, maka jangan salahkan rakyat ketika Senayan berubah jadi Versailles yang kedua. Kursi empuk kekuasaan itu tak lebih dari singgasana rapuh, menunggu dihantam badai kemarahan, hingga hancur berantakan.

Karena sejarah, pada akhirnya, tak pernah tidur. Ia hanya menunggu saat untuk mengulang.

🏴‍☠️🏴‍☠️🏴‍☠️

-Xcrot-