-->

Ketika Ibu-Ibu Mulai Membaca Berita, Bibit Baru Jurnalisme Warga dan Perlawanan terhadap Konten Sampah

Peserta DWP Dinkominfo Blora sedang membaca berita di depan juri

Ada peristiwa kecil yang sering luput dari radar publik, tetapi menyimpan denyut perubahan yang pelan namun pasti. Lomba membaca berita yang digelar DWP Dinkominfo Blora mungkin tampak seperti agenda seremonial—sebatas kegiatan internal yang rutin muncul di kalender ibu-ibu instansi. Tapi siapa sangka, dari ruang sederhana itu muncul tanda-tanda awal tentang bagaimana literasi digital bisa mengambil bentuk baru, lebih relevan, dan lebih membumi.

Ketika ibu-ibu berdiri satu per satu, memegang naskah, berlatih intonasi, dan mencoba menyampaikan berita dengan baik, mereka sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang lebih fundamental daripada sekadar berlomba: mereka sedang belajar memaknai informasi. Di tengah derasnya konten-konten dangkal yang membanjiri beranda media sosial, kegiatan seperti ini adalah jeda yang menenangkan. Sebuah ajakan kembali ke hal-hal esensial—membaca dengan benar, memahami konteks, dan berbicara dengan kejernihan.

Apalagi, langkah Dinkominfo Blora memberi kesempatan kepada para pemenang lomba untuk mengisi podcast di LPPL Radio Gagak Rimang menjadi sinyal kuat bahwa gerakan ini tidak berhenti di ruang lomba. Ia diperluas, diberi panggung, diberi masa depan. Podcast adalah medium yang intim, santai, namun justru itulah kekuatannya. Di sana, percakapan bisa berlangsung lebih jujur dan lebih dalam, tanpa tekanan visual yang berlebihan.

Yang menarik, ruang ini kini dibuka untuk ibu-ibu. Padahal, selama ini jurnalisme warga sering diasosiasikan dengan kelompok muda—yang aktif, mobile, tech-savvy. Tetapi apa jadinya jika jurnalisme warga justru tumbuh dari ruang domestik? Dari tangan ibu-ibu yang peka terhadap hal-hal kecil: harga sayur, pelayanan di puskesmas, kondisi jalan desa, perubahan perilaku anak-anak, ritme pasar, atau kisah warga yang tak pernah masuk headline media?

Justru dari ruang domestik ini informasi paling otentik sering muncul. Dan ketika ibu-ibu mulai terbiasa membaca berita dengan baik, ada perubahan halus dalam cara mereka mengonsumsi informasi. Feed media sosial yang tadinya didominasi konten receh—gossip, drama, video tidak bermutu—pelan-pelan mulai mereka tinggalkan. Digantikan keinginan untuk menghasilkan sesuatu yang punya nilai. Tidak muluk-muluk, cukup bermanfaat. Cukup jujur.

Lomba membaca berita itu, dengan segala kegugupan dan tawa-tawa kecilnya, menjadi titik mula sebuah perjalanan. Perjalanan menuju kesadaran bahwa setiap warga, termasuk ibu-ibu, berhak dan mampu memproduksi informasi yang sehat. Tidak harus menjadi wartawan profesional. Tidak harus punya studio. Cukup dengan keberanian untuk membaca, memahami, dan bercerita.

Dan itulah benih jurnalisme warga. Ia tidak selalu lahir dari demonstrasi besar, diskusi serius, atau aktivitas aktivis. Kadang ia muncul dari suara ibu yang pelan namun mantap, berdiri di depan mikrofon sambil berkata: “Ini berita hari ini.”

Gerakan kecil ini mungkin tidak langsung mengubah dunia digital Blora. Tetapi ia membuka pintu. Menyalakan lilin kecil di tengah gelapnya konten sampah yang semakin liar. Lilin yang cukup terang untuk menunjukkan arah—bahwa literasi bisa tumbuh dari ruang mana saja, bahkan dari ruang yang selama ini dianggap biasa-biasa saja.

Dan bila suatu hari nanti, podcast LPPL Radio Gagak Rimang mulai dipenuhi suara-suara baru dari ibu-ibu yang dulu hanya menjadi penonton, maka kita tahu bahwa perubahan itu benar-benar mengambil bentuk. Pelan. Halus. Tapi nyata.