-->

Di Antara Jati dan Jagung Kendeng, IMPARA UNNES Menyulam Masa Depan SDM Blora

Bupati Blora Arief Rohman menghadiri Pemilihan Pengurus IMPARA UNNES di Pendopo Kabupaten Blora

Angin Kendeng Utara selalu datang tanpa tergesa. Semilir menyusuri punggung-punggung bukit kapur, melewati hutan jati yang tegak dan sabar, lalu turun ke ladang-ladang jagung Blora yang tumbuh apa adanya. Dari sanalah sebagian besar mahasiswa itu berasal—dari tanah yang keras, dari daun jati yang luruh setiap musim, dari jagung yang harus menunggu waktu sebelum berbuah.

Di Pendopo Kabupaten Blora, Minggu siang, 11 Januari 2026, anak-anak Kendeng itu berkumpul. Bukan untuk bertani, bukan pula untuk menebang jati, melainkan untuk memilih arah: Pemilihan Pengurus Ikatan Mahasiswa dan Pelajar Blora (IMPARA) Universitas Negeri Semarang. Di bawah atap joglo yang menyimpan ingatan sejarah, masa depan dibicarakan dengan bahasa yang tenang.

Komitmen Pemkab Blora Membangun SDM Lewat Pendidikan

Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, hadir seperti penjaga batas antara masa lalu dan masa depan. Mas Arief—sapaan yang lebih membumi—berdiri di hadapan mahasiswa Blora yang kini merantau ke Semarang, membawa nama kampung, membawa bau tanah, membawa ingatan tentang rumah.

Komitmen Pemerintah Kabupaten Blora terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia kembali ditegaskan. Pendidikan, bagi Mas Arief, bukan sekadar statistik kelulusan, melainkan upaya panjang memindahkan kekuatan Blora dari tanah ke pikiran. Kerja sama dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES) terus dijaga, salah satunya melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang kembali dilaksanakan pada 2026.

Kerja Sama Strategis Pemkab Blora dan UNNES

Lewat RPL, perangkat desa dan para pegiat desa—orang-orang yang selama ini bekerja di lapangan, di balai desa, di tengah masyarakat—diberi jalan untuk naik jenjang pendidikan tinggi. Pengalaman mereka diakui, disambung dengan ilmu. Seperti jati tua yang tetap bisa bertunas.

“UNNES telah memberikan sumbangsih besar dalam pengembangan SDM di Kabupaten Blora,” ujar Mas Arief. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi menyimpan kesadaran bahwa daerah tak bisa terus menggantungkan masa depan pada sumber daya alam semata.

IMPARA UNNES sebagai Rumah Mahasiswa Blora

IMPARA, dalam pandangan Mas Arief, adalah rumah singgah bagi anak-anak Blora di tanah rantau. Tempat saling menguatkan agar tak ada yang tumbang di tengah jalan. Ia menekankan pentingnya peran organisasi ini untuk saling mengingatkan, saling menopang, agar studi bisa diselesaikan tepat waktu, prestasi bisa diraih, dan arah pulang tetap jelas.

Beasiswa dan Kehadiran Negara bagi Mahasiswa Blora

Ke depan, Pemkab Blora berencana memperluas jangkauan IMPARA. Koordinasi dengan pihak rektorat UNNES akan dilakukan untuk memetakan mahasiswa asal Blora secara lebih detail. Tujuannya bukan pengawasan, melainkan perhatian. Jangan sampai ada mahasiswa Blora yang terhenti langkahnya hanya karena biaya.

“Kalau ada kendala, termasuk soal kuliah, Pemkab siap hadir. Beasiswa itu ada,” tegas Mas Arief. Negara, dalam konteks ini, tidak boleh sekadar menjadi nama di spanduk.

IMPARA sebagai Duta Budaya dan Identitas Blora

Lebih dari itu, IMPARA didorong menjadi duta kecil Blora di lingkungan kampus. Bukan dengan baliho atau jargon, melainkan lewat kebudayaan. Barongan, kesenian tradisional, denyut kesenian desa—semuanya bisa dihadirkan di UNNES. Cara lama, tapi jujur. Karena budaya adalah bahasa yang paling mudah dipahami siapa pun.

Program Kerja Realistis untuk Generasi Kampus

Mas Arief juga mengingatkan agar program kerja IMPARA disusun dengan kaki menapak tanah. Tidak perlu terlalu tinggi menjulang, asal bisa dijalankan. Seperti menanam jagung: sederhana, tapi pasti panennya.

Di sisi lain, IMPARA diharapkan menjadi jembatan bagi pelajar Blora. Mengenalkan UNNES kepada siswa SMA, SMK, MA, dan sekolah-sekolah lain di Blora. Agar kampus tidak tampak jauh, tidak tampak asing, dan tidak menakutkan.

Merajut Jejaring Mahasiswa Blora Lintas Kampus

Sebelum sambutan ditutup, Mas Arief membuka peluang sinergi lebih luas. Pemkab Blora ingin merajut komunikasi antar organisasi mahasiswa asal Blora di berbagai perguruan tinggi. Agar mereka saling terhubung, saling menguatkan, dan bersama-sama kembali membangun tanah kelahiran.

Pendopo kembali lengang setelah acara usai. Namun di luar, Kendeng tetap berdiri. Hutan jati tetap tegak. Ladang jagung tetap menunggu musim. Dan di antara semua itu, anak-anak Blora sedang belajar satu hal penting: merantau sejauh apa pun, akar tak pernah benar-benar putus.