Keringat di Atas Arus Lusi, Kala Sinergi Polsek Kunduran Menjinakkan Amuk Alam

Sebuah foto dramatis yang menangkap momen petugas gabungan dan warga di tengah tumpukan kayu sungai, berlatar belakang jembatan beton dan alat berat yang sedang bekerja di bawah langit mendung yang pudar
"Simphoni Pengabdian", Di bawah komando sinergi, alat berat dan otot manusia bersatu menjinakkan sumbatan Sungai Lusi demi tegaknya keselamatan publik di Jembatan Kali Tempur.

KUNDURAN – Matahari baru saja memanjat langit Desa Ngilen pada Kamis pagi (15/1/2026), namun suasana di kolong Jembatan Kali Tempur sudah memanas oleh deru mesin dan riuh suara manusia. Di sana, Sungai Lusi tidak sedang tenang. Ia membawa "oleh-oleh" pahit dari hulu, gundukan raksasa sisa-sisa bambu yang tumbang dan batang kayu yang meronta di antara tiang-tiang beton jembatan.

Ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ini adalah sebuah palagan kecil melawan potensi bencana. Di garis depan, tampak Ps. Kapolsek Kunduran IPTU Budi Santoso, S.H., M.H., dengan seragam yang mulai terpapar debu dan lumpur. Baginya, setiap batang kayu yang tersangkut adalah ancaman bagi ketenangan warga.

Pengarahan sebelum kerja bakti di sungai Lusi Kunduran dimulai

“Kehadiran kami di sini adalah wujud nyata dari nafas 'Polres Blora Hebat; Hadir, Berbuat, Bermanfaat',” ujar IPTU Budi Santoso dengan nada mantap di tengah deru excavator. Tatapannya tajam menatap arus. “Kami tidak sedang sekadar membersihkan sampah. Kami sedang memastikan bahwa rakyat di Kunduran bisa tidur nyenyak tanpa dihantui luapan air. Inilah pelayanan prima yang kami dedikasikan; memastikan nadi transportasi dan rasa aman tetap berdenyut di jembatan ini.”

Kapolsek Kunduran Iptu Budi Santoso turun langsung ikut kerja bakti bersama warga

Di sisi lain, sebuah lengan baja raksasa milik DPUPR mulai menghujam tumpukan material. PLT Kepala DPUPR Kab. Blora, Nizamudin Al Hudda, S.T., berdiri memantau presisi alat berat tersebut. Ia memahami betul bahasa infrastruktur—bahwa beton terkuat sekalipun bisa kalah oleh tekanan sampah yang masif.

“Volume material ini luar biasa. Jika hanya mengandalkan tangan manusia, kita akan kalah cepat oleh waktu,” tutur Nizamudin. “Dukungan alat berat ini adalah ikhtiar teknis kami untuk mengembalikan kedaulatan aliran sungai. Kami bergerak cepat demi menjaga marwah infrastruktur publik agar tetap berdiri kokoh melindungi setiap warga yang melintas di atasnya.”

Tumpukan sangkrah di sungai Lusi Kunduran yang dibersihkan para personel TNI Polrri DPUPR BPBD PMI dan warga

Drama di pinggir Lusi ini kian lengkap dengan kehadiran Camat Kunduran, Suharto, S.E., S.H., M.Hum. Di matanya, tumpukan sampah itu adalah ujian bagi kekompakan warga. Ia melihat personel TNI, Polri, dan penduduk desa bersatu tanpa sekat jabatan, menarik bambu dengan galah, dan melawan arus yang keruh.

“Lihatlah, ini adalah potret kemanunggalan yang sejati,” ucap Suharto haru. “Warga Desa Ngilen dan seluruh instansi luruh dalam satu semangat gotong royong. Kami mengapresiasi kecepatan gerak Kapolsek dan tim. Namun, melampaui itu, saya menitipkan pesan pada alam lewat warga, jangan lagi kotori nadi kehidupan kita ini. Mari jaga sungai ini agar ia tetap menjadi kawan, bukan lawan.”

Sinergi antara TNI Polri dan Masyarakat Sipil biasa terjadi di Kecamatan Kunduran Blora

Menjelang pukul 11.05 WIB, wajah Sungai Lusi mulai berseri. Sumbatan yang tadinya tampak seperti monster kayu kini telah sirna, dievakuasi ke daratan. Air kembali mengalir tenang, melewati kolom-kolom jembatan tanpa hambatan berarti.

Lusi telah dijinakkan. Bukan dengan kekuatan satu orang, melainkan dengan ikatan erat sinergi tanpa batas yang melampaui seragam dan pangkat. Di bawah langit Kunduran, hari itu dibuktikan kembali, bahwa seberat apa pun beban yang dibawa arus, ia akan kalah oleh tangan-tangan yang saling menggenggam dalam pengabdian.