-->

Pendar Cahaya di Pendopo: Saat Jati Bersemi dalam Estafet Keadilan

Kepala Kejaksaan Negeri Blora 2026 Khristiya Lutfiasandhi, S.H., M.H.

BLORA – Malam itu, Kamis (8/1/2026), udara di atas tanah Blora terasa lebih tenang dari biasanya. Di balik rimbunnya hutan jati yang menjadi pagar alam kabupaten ini, sebuah perhelatan sarat makna digelar. Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora, yang berdiri kokoh sebagai simbol pengabdian, menjadi saksi bisu saat dua sosok penegak hukum bertukar senyum dan tanggung jawab dalam sebuah malam pisah sambut yang bersahaja namun mendalam.

Lampu-lampu gantung di langit-langit pendopo memendarkan cahaya kekuningan, menciptakan siluet kehangatan di tengah jajaran Forkopimda yang hadir. Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, tampak hadir dengan keanggunan seorang ibu, mewakili Dr. H. Arief Rohman yang malam itu harus berada di Jakarta demi tugas negara. Meski raga sang Bupati di ibu kota, suaranya menggema melalui layar videotron, melintasi jarak ribuan kilometer untuk menitipkan sebuah pesan: pembangunan Blora butuh tangan-tangan yang bersatu.

Jejak Langkah Hetty Cahyaningrum 

Bagi Hetty Cahyaningrum, S.H., C.N., enam bulan di Blora mungkin terasa sekejap mata, namun jejaknya sedalam akar jati di tanah kapur. "Saya merasa nyaman bertugas di Blora dengan lingkungan kerja yang sangat mendukung," tuturnya dengan nada bicara yang tenang namun berwibawa. Di bawah kepemimpinannya yang singkat, pelayanan publik di korps Adhyaksa Blora tak sekadar berjalan, tapi berlari.

Kepuasan itu diamini oleh Hj. Sri Setyorini. Baginya, Ibu Hetty bukan sekadar pejabat, melainkan mitra yang mampu menghidupkan napas aparatur dengan penuh dedikasi. Perpisahan malam itu bukanlah akhir, melainkan sebuah simpul yang akan terus terikat dalam ingatan warga Blora.

Napas Baru dari Bumi Prabumulih 

Saat satu bintang berpindah orbit, bintang lain hadir memberi arah. Khristiya Lutfiasandhi, S.H., M.H., melangkah maju memperkenalkan diri. Membawa pengalaman setahun enam bulan dari bumi Prabumulih, Sumatra Selatan, ia kini menapakkan kaki di tanah Blora yang kaya akan sejarah.

"Mohon dukungan seluruh pihak agar saya dapat menjalankan tugas di Blora dengan baik dan benar," ucap Khristiya. Kalimatnya sederhana, namun mengandung beban amanah yang besar. Ia datang sebagai nakhoda baru yang diharapkan mampu menjaga ritme penegakan hukum di kabupaten yang kini kian bersinar.

Sinergi di Tengah Harapan Baru 

Malam itu tak hanya bicara tentang rotasi jabatan. Di sela-sela obrolan santai, terselip kabar gembira yang dibawa Wakil Bupati. Blora kini kian lengkap dengan hadirnya Kantor Imigrasi Kelas I Non TPI. Sebuah institusi yang menjadi jawaban atas dahaga masyarakat akan pelayanan paspor dan keimigrasian yang lebih dekat dari pelataran rumah sendiri.

Dukungan pun mengalir deras bak arus sungai Lusi di musim penghujan. Letkol Infanteri Agung Cahyono, AKBP Wawan Andi Susanto, hingga para pimpinan pengadilan, duduk melingkar dalam satu frekuensi yang sama: sinergi. Bagi mereka, keamanan dan keadilan di Blora adalah sebuah orkestra yang harus dimainkan bersama secara harmonis.

Saat malam kian larut dan kabut tipis mulai turun di wilayah Cepu hingga Jati, acara berakhir dengan jabatan tangan yang erat. Di tanah para pejuang ini, estafet kepemimpinan baru saja bermula, membawa harapan bahwa keadilan akan terus tumbuh sekuat kayu jati, memberi peneduh bagi setiap insan di Bumi Blora.