Bukan Materi Pidato 17 Agustus Bagi Pejabat Busuk - Exi Wijaya
"Kemerdekaan bukan sekedar kata, merdeka adalah sikap. Kemerdekaan bukan seremoni, merdeka adalah perlawanan. Kemerdekaan bukan hadiah, merdeka adalah hak yang harus terus direbut."
Tujuh belas Agustus 1945, bangsa ini berdiri dengan satu teriakan lantang : Merdeka! Itu bukan kata manis di bibir, bukan sekadar bendera merah putih yang berkibar anggun di angkasa. Itu adalah pekik dari perut yang lapar, dari tulang yang patah, dari darah yang mengalir di tanah, dari kemarahan satu bangsa yang di injak-injak harga dirinya oleh kolonialisme. Itu adalah janji : bahwa rakyat akan bebas dari penindasan, bebas dari cengkraman penjajah, bebas menentukan nasibnya sendiri.
Namun, apa yang kita saksikan hari ini? Kemerdekaan yang dulu diproklamasikan dengan darah, kini sering hanya diperingati dengan seremoni yang hampa makna. Upacara bendera jadi panggung pidato pejabat, lomba makan kerupuk jadi candaan sementara rakyat setiap hari harus berebut remahan kehidupan. Kemerdekaan berubah jadi pesta formalitas sementara isinya kosong, janji proklamasi belum pernah benar-benar ditepati.
Para pejabat berteriak "Merdeka!" setiap tahun, tapi tanah petani tetap dirampas oleh proyek tambang, perkebunan, dan investasi asing. Kita menyanyikan lagu kebangsaan dengan gagah, sementara buruh dipekerjakan dengan upah murah, dieksploitasi di negeri sendiri. Kita hormat pada merah putih, tapi pejabat justru menjual kedaulatan bangsa dengan tanda tangan perjanjian utang yang mencekik anak cucu generasi mendatang.
Apakah ini merdeka? Jika pendidikan tinggi berorientasi bisnis dan orang kaya punya akses privilege? Apakah ini merdeka jika rumah sakit prioritaskan mereka yang berduit? Apakah ini merdeka jika rakyat kecil diperas pajak, sementara koruptor tidur nyaman di kursi empuk kekuasaan? Apakah ini merdeka, jika suara rakyat dijual murah dalam setiap kontestasi politik, lalu dilupakan begitu kemenangan diraih?
Tujuh belas Agustus seharusnya jadi pengingat bahwa kita tak boleh puas dengan kemerdekaan semu. Sebab penjajahan belum mati, ia hanya berganti rupa. Dari kolonialisme, imperialisme bersenjata menjadi neo kolonialisme dan neo imperialisme penjajahan ekonomi. Dari VOC berseragam menjadi korporasi multinasional yang merampas sumber daya. Dari kompeni berkulit putih menjadi pejabat berwajah pribumi yang korup dan tunduk pada kepentingan modal.
Kemerdekaan hari ini adalah kemerdekaan yang dicurangi. Merdeka di mulut, terjajah di perut. Merdeka di spanduk, tapi terbelenggu di pasar, di pabrik, di sawah, di ladang, di pabril. Merdeka seremonial, tapi terikat di kontrak utang luar negeri.
Maka, jika hari ini kita kembali berteriak Merdeka! jangan biarkan ia jadi teriakan kosong. Jadikan ia perlawanan. Perlawanan terhadap penguasa yang mengkhianati amanat rakyat. Perlawanan terhadap kebijakan yang menindas. Perlawanan terhadap kapital yang merampas tanah dan tenaga rakyat.
Sebab 17 Agustus 1945 bukan milik pemerintah, bukan milik partai politik, bukan milik elite. Ia milik rakyat! Dan kemerdekaan sejati hanya akan lahir ketika rakyat berani menuntut kembali haknya, berani melawan, berani mengambil alih kendali negeri ini dari tangan para pengkhianat bangsa. Kemerdekaan bukan sekedar kata, merdeka adalah sikap. Kemerdekaan bukan seremoni, merdeka adalah perlawanan. Kemerdekaan bukan hadiah, merdeka adalah hak yang harus terus direbut.
*Dirgahayu Republik Indonesia*
Xcrot
#Doa terbaik buat para pejuang kemerdekaan yang tak pernah meminta balasan, selain ;
_"Negeri yang bebas, negeri yang adil, negeri yang sejahtera buat seluruh rakyatnya"_

